:: Telp (0644) 531755 Email home(at)unisai.ac.id
Info Kampus
Tuesday, 21 May 2024
  • Pendaftaran Mahasiswa Baru Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia Tahun Akademik 2024-2025 dimulai pada Tanggal 1 Maret s.d 25 Juli 2024
21 March 2020

Khaluet Corona Ala Rasulullah

Saturday, 21 March 2020 Kategori : Opini

DEWASA ini masyarakat dunia kembali menghadapi musibah penyakit wabah yang dikenal dengan virus Corona. Berdasarkan penjelasan para ahli kesehatan Virus Corona pada mulanya merupakan virus yang menginfeksi antar hewan, namun virus ini telah berevolusi dan menyebar ke dapat menginfeksi manusia, dengan gejala awal batuk, pilek, kelelahan, demam hingga sesak napas.

Berdasarkan informasi dari Komisi Kesehatan Nasional Cina, Virus Corona memiliki kemiripan seperti virus SARS dan MERS yang dapat mengakibatkan kematian bagi penderitanya.  Corona virus sebetulnya virus umum yang kebanyakan tidak berbahaya. Virus Corona menginfeksi hidung, sinus, dan tenggorokan bagian atas. Virus Corona pertama kali diidentifikasi pada 1960, namun tidak diketahui asal virusnya. Nama corona virus berasal dari bentuknya yang mirip mahkota. Pada beberapa kasus, virus ini bisa menginfeksi hewan dan manusia. Kebanyakan virus tersebut menyebar seperti virus influenza pada umumnya. Coronavirus menyebar melalui batuk dan bersin mereka yang terinfeksi.

Para ahli medis menghadpi pasien yang diserang Corona,  mereka memakai mantel layaknya astronot yang menutupi seluruh tubuh. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.Kalau dokter modern memakai mantel “ala astronot”, di Eropa abad ke 14 saat terjadi wabah yang disebut Black Death, lain lagi.Petugas medis yang menangani memakai seragam berupa jubah panjang, sarung tangan, sepatu bot, dan topi yang tepiannya lebar.

Seragam itu juga dilengkapi dengan masker “berparuh” yang terlihat seperti burung.Selain itu, dokter juga membawa tongkat panjang, agar tidak perlu bersentuhan langsung dengan pasien. Penyebaran penyakit yang disebabkan virus atau bakteri telah lama mendapat perhatian dari para dokter Muslim.Tercatat nama Abu Abdullah Muhammad bin Umar bin al-Husayn at-Taymi al-Bakri at-Tabaristani atau yang dikenal dengan nama Fakhruddin ar-Razi yang di Barat disebut Rhazes, menuliskan tentang penyakit cacar dan campak dalam kitabnya “Al-Judari wal Hasbah”.

 Kitab ini diterjemahkan dalam bahasa Latin di Venezia (1565) dengan judul De Variolis et Morbilis (Risalah Tentang Cacar dan Campak).kitab ini kemudian diterjemahkan dalam banyak bahasa modern dan masih digunakan sebagai buku ajar di fakultas kedokteran sampai abad ke-18.Menariknya, Ar Razi bukan sekadar dokter. Seperti cendekiawan Muslim pada umumnya, ia menguasai beragam disiplin ilmu.Ia adalah dokter yang diminta Khalifah Harun al Rasyid mendirikan bimaristan (rumah sakit) di Baghdad. Menariknya, sebelum menentukan lokasi bimaristan, Ar Razi meletakkan beberapa potong daging segar di sejumlah titik. Lokasi di mana daging paling lama membusuk, itu yang dipilih. Karena menandakan tempat yang paling bersih dan udaranya segar. Rumah sakit yang didirikannya pun telah dirancang memisahkan ruangan untuk pasien dengan penyakit menular. (Republika, Uttiek M Panji Astuti, 2020)

“Khaluet” Corona Ala rasulullah

Model karantina atau isolasi dalam bahasa Aceh di kenal “Khaluet”terhadap orang yang tengah menderita penyakit menular pernah dianjurkan Rasulullah SAW. Kini saat penyakit Carona tengah mewabah di dunia termasuk daerah kita, tidak salah mengikuti midel isolasi corona (Khaluet Corona) seperti baginda Rasulullah Saw. Wabah penyakit menular pernah terjadi di masa Nabi Muhammad SAW. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Dan Rasulullah memerintah untuk tidak dekat dekat dengannya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda: ‏: “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta” (HR. Bukhari). Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya jangan berada dekat wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar. Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu” (HR. Bukhari). 

Nabi Saw juga mengajarkan doa kepada para sahabat dari penyakit deman dan semua penyakit, agar mereka mengucapkan: bismillahil kabiri a’uzu billahi al-‘adhimi min syarri ‘irqi na’ari wa min syarri harri an-nari (Dengan menyebut nama Allah yang Maha Besar, aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dari kejahatan penyakit na’ar (yang membangkang) dan dari kejahatan panasnya neraka. (Sunan Ibnu Majah No. 3517)

Kita sebagai warga negara yang taat kepada pemimpin setidaknya mampu melaksanakan berbagai anjuran berkaitan dengan pencegahan dan penanganan virus Corona dengan isolasi (khaluet).

Mari kita mengisolasi diri (Kaluet ) sementara waktu di rumah masing-masing. Dan “Kaluet” ini insya Allah akan bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga dan orang lain. Tidak tertutup kemungkinan pula dalam skala besar akan bermanfaat untuk umat manusia.

Di samping itu hikmah “khaluet Corona” ini sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah (vertikal) juga terus berintrospeksi diri serta bertaubat meraih ridha ilahi disamping tetap melakukan instruksi pihak pemerintah (horizontal).

**Dr. Tgk. Riandi Syafri, MA (URS)
Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga dan Pimpinan Dayah Serambi Aceh Al-Aziziyah Jambi

No Comments

Tinggalkan Komentar